Lestari Budaya Luhur: 20 Contoh Peribahasa Jawa Kuno dan Maknanya Mendalam

Bahasa Jawa kaya akan peribahasa atau paribasan yang mengandung kearifan lokal dan nilai-nilai luhur. Peribahasa Jawa kuno, khususnya, menyimpan warisan budaya dan filosofi hidup yang mendalam. Memahami paribasan ini tidak hanya memperkaya kosakata, tetapi juga membuka wawasan tentang pemikiran dan pandangan hidup masyarakat Jawa zaman dahulu. Berikut 20 contoh peribahasa Jawa kuno lengkap dengan artinya:

  1. Adigang, adigung, adiguna: Mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian diri sendiri.
  2. Ajining dhiri dumunung ana ing lathi: Harga diri seseorang terletak pada ucapannya.
  3. Alon-alon waton kelakon: Biar lambat asal selamat/tercapai tujuannya.
  4. Becik ketitik ala ketara: Perbuatan baik akan tampak, perbuatan buruk pun akan terlihat.
  5. Criwis cawis: Banyak bicara tetapi juga cekatan dalam bekerja.
  6. Desa mawa cara, negara mawa tata: Setiap tempat memiliki adat dan aturan masing-masing.
  7. Gajah mati ninggal gading, macan mati ninggal belang, wong mati ninggal jeneng: Orang baik akan dikenang namanya setelah meninggal.
  8. Jer basuki mawa beya: Untuk mencapai suatu tujuan diperlukan pengorbanan.
  9. Kebo bule mati setra: Orang kaya atau berkuasa meninggal tanpa meninggalkan warisan yang bermanfaat.
  10. Kukusing geni arum: Kesulitan atau kesusahan pada akhirnya akan membawa kebaikan.
  11. Mikul dhuwur mendhem jero: Menjunjung tinggi nama baik keluarga dan menyembunyikan aib keluarga.
  12. Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake: Berwibawa tanpa perlu menunjukkan kekuatan, menang tanpa merendahkan lawan.
  13. Ojo dumeh: Jangan mentang-mentang (karena punya kedudukan atau kekayaan).
  14. Sabar iku kuncining swarga: Sabar itu kunci surga (keselamatan).
  15. Sak beja-bejane wong kang lali, isih beja wong kang eling lan waspada: Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa (diri), masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.
  16. Sing sapa nandur bakal ngundhuh: Siapa yang menanam, dia yang akan memanen (sesuai perbuatannya).
  17. Timun wungkuk jaga imbuh: Orang yang merasa kurang lalu selalu meminta tambah.
  18. Urip iku sawang sinawang: Hidup itu saling melihat (apa yang tampak di luar belum tentu sama dengan kenyataannya).
  19. Witing tresna jalaran saka kulina: Cinta tumbuh karena terbiasa.
  20. Yen kepingin mulya kudu rekasa: Jika ingin mulia harus berusaha keras.

Memahami dan menghayati peribahasa Jawa kuno ini dapat memberikan pedoman hidup dan memperkaya kearifan lokal kita. Mari lestarikan warisan budaya yang tak ternilai harganya ini.