Mabuk darat, atau motion sickness, adalah kondisi umum yang sering dialami banyak orang saat bepergian dengan mobil, bus, atau kapal, ditandai dengan gejala mual, pusing, hingga muntah. Meskipun dirasakan di perut, Penjelasan Dokter mengungkapkan bahwa akar masalah dari mabuk darat sesungguhnya berasal dari organ kecil yang tersembunyi di dalam kepala: telinga bagian dalam. Pemahaman mendalam tentang bagaimana telinga dalam, sebagai pusat keseimbangan tubuh, berinteraksi dengan mata dan otak adalah kunci untuk mengatasi dan mencegah sensasi tidak nyaman ini. Penjelasan Dokter ini membantu kita memahami bahwa mabuk darat adalah respons alami sistem saraf terhadap konflik sensorik.
Menurut Dr. Arini Setiadi, Sp.THT-KL, seorang spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan yang berpraktik di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Pusat, mabuk darat terjadi karena adanya konflik informasi sensorik yang dikirim ke otak. Penjelasan Dokter ini merujuk pada tiga sistem utama: mata (penglihatan), telinga dalam (sistem vestibular), dan indra proprioseptif (rasa posisi tubuh). Saat seseorang duduk di dalam mobil yang bergerak, telinga bagian dalam, yang berisi cairan dan sensor keseimbangan, mendeteksi gerakan nyata (maju, berbelok, atau pengereman), tetapi mata terfokus pada objek statis di dalam mobil (seperti buku atau layar ponsel).
Konflik sensorik inilah yang memicu gejala mabuk darat. Telinga dalam mengirimkan sinyal “kita sedang bergerak” ke otak, sementara mata mengirimkan sinyal “kita diam di satu tempat”. Otak menerima dua sinyal yang bertentangan dan menginterpretasikannya sebagai sinyal bahaya atau keracunan. Sebagai respons protektif, otak lantas memicu pelepasan hormon stres dan memulai respons mual dan muntah sebagai upaya untuk ‘mengeluarkan’ racun yang diduga masuk. Dr. Arini mencatat bahwa wanita dan anak-anak usia 2 hingga 12 tahun memiliki sensitivitas sistem vestibular yang lebih tinggi, sehingga mereka cenderung lebih rentan mengalami mabuk darat.
Untuk mengurangi Potensi Bahaya mabuk darat, Penjelasan Dokter menyarankan beberapa strategi sederhana yang berfokus pada sinkronisasi informasi sensorik. Pertama, usahakan pandangan mata sejajar dengan horizon (cakrawala). Dengan melihat ke luar jendela dan fokus pada objek yang bergerak jauh, mata dan telinga dapat menyepakati bahwa tubuh memang sedang bergerak. Kedua, hindari membaca buku atau melihat gawai terlalu lama saat bepergian. Ketiga, meminum obat anti-mabuk (antihistamin dosis rendah) sekitar 30 menit sebelum perjalanan dapat membantu menumpulkan sensitivitas saraf vestibular, namun harus sesuai anjuran dokter.
Strategi jangka panjang untuk mengurangi sensitivitas mabuk darat, menurut studi yang dilakukan di Universitas Pertahanan pada akhir tahun 2024, adalah melalui latihan fisik yang melibatkan keseimbangan, seperti yoga atau latihan yang dirancang untuk memperkuat respons sistem vestibular, sehingga tubuh menjadi lebih terbiasa menghadapi gerakan yang tidak terduga.