Pada sekitar tahun 1679 M, terjadi perpecahan dalam Kesultanan Cirebon yang berujung pada pembentukan dua keraton utama: Kasepuhan dan Kanoman. Peristiwa ini menandai babak baru dalam sejarah Cirebon, mengubah lanskap politik dan arsitektur kota secara signifikan. Pemahaman akan latar belakang dan penyebab perpecahan ini sangat penting untuk menyingkap kompleksitas sejarah Kesultanan Cirebon.
Perpecahan ini salah satunya didorong oleh upaya mencegah konflik saudara. Setelah Sultan Cirebon wafat, persaingan antara ahli waris seringkali terjadi perpecahan kekuasaan. Untuk menghindari pertumpahan darah dan menjaga stabilitas, pembagian wilayah kekuasaan dianggap sebagai solusi yang paling bijaksana, meskipun akhirnya menciptakan dua pusat kekuasaan yang terpisah dan beroperasi sendiri.
Sultan Sepuh I (Pangeran Martawijaya) tetap berkuasa di keraton lama yang kemudian dinamakan Keraton Kasepuhan, yang secara harfiah berarti “tempat yang tua” atau “tempat yang dituakan”. Penamaan ini menegaskan posisinya sebagai penerus sah dan penjaga tradisi serta pusaka kesultanan yang sudah ada sejak awal, menjaga warisan yang telah dibangun oleh para pendahulunya.
Sementara itu, adiknya, Sultan Anom I (Pangeran Kertawijaya), mendirikan Keraton Kanoman, yang berarti “tempat yang muda”. Pendirian keraton baru ini menjadi simbol kemandirian dan garis keturunan yang berbeda. Meskipun demikian, kedua keraton ini tetap menjaga hubungan kekerabatan dan saling menghormati, meski secara administratif sudah terjadi perpecahan yang nyata.
Faktor lain yang berkontribusi pada terjadi perpecahan ini adalah campur tangan VOC (Belanda). VOC, dengan ambisi politik dan ekonominya, seringkali memanfaatkan ketegangan internal di kerajaan-kerajaan Nusantara. Dengan mendukung satu pihak melawan pihak lain, VOC dapat melemahkan kekuasaan pribumi dan memperkuat pengaruhnya sendiri, menciptakan situasi yang tidak diinginkan.
Campur tangan VOC dalam suksesi di Kesultanan Cirebon bukan hanya mempercepat perpecahan, tetapi juga memastikan bahwa kedua faksi yang terbentuk akan lebih mudah dikendalikan. Strategi “pecah belah” ini adalah taktik umum VOC untuk mendominasi wilayah-wilayah strategis, dan Cirebon, dengan pelabuhannya yang penting, adalah target yang menarik bagi mereka untuk dikuasai.
Meskipun terjadi perpecahan, baik Keraton Kasepuhan maupun Keraton Kanoman tetap memainkan peran penting dalam pelestarian budaya dan tradisi Cirebon. Keduanya mempertahankan adat istiadat, seni, dan ajaran Islam yang menjadi ciri khas kesultanan. Hingga kini, kedua keraton ini menjadi warisan sejarah yang berharga, yang harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Cirebon.