Barisan Tani Indonesia atau BTI merupakan organisasi massa yang memiliki pengaruh sangat kuat di akar rumput selama era Orde Lama. Salah satu taktik komunikasi politik mereka yang paling melegenda adalah kampanye melawan “Tujuh Setan Desa”. Melalui narasi ini, BTI berhasil memetakan musuh bersama bagi kaum tani yang hidup di Wilayah Pedesaan.
Identifikasi terhadap tujuh sosok penghambat kesejahteraan ini mencakup tuan tanah jahat, lintah darat, tengkulak, hingga tukang ijon. BTI melakukan klasifikasi sosial secara tajam untuk membangkitkan kesadaran kelas di kalangan petani penggarap yang selama ini tertindas. Kampanye ini terbukti sangat efektif dalam menyatukan suara masyarakat yang tinggal di berbagai Wilayah Pedesaan.
Strategi ini tidak hanya berhenti pada retorika, tetapi juga diwujudkan dalam aksi sepihak atau land reform. Para anggota BTI didorong untuk berani mengambil alih lahan yang dianggap dikuasai secara tidak adil oleh para tuan tanah. Dinamika sosial di Wilayah Pedesaan pun berubah menjadi arena pertarungan politik dan ekonomi yang sangat sengit.
Pihak organisasi sering mengadakan rapat-rapat akbar di lapangan terbuka untuk membakar semangat para petani miskin. Mereka menggunakan idiom lokal agar pesan mengenai perlawanan terhadap penindasan mudah diserap oleh warga yang kurang berpendidikan formal. Aktivitas ini membuat BTI menjadi organisasi yang paling ditakuti oleh elit tradisional yang berada.
Pemerintah kolonial hingga awal kemerdekaan melihat fenomena ini sebagai ancaman serius bagi stabilitas keamanan nasional. Ketegangan antara pendukung BTI dengan kelompok agamawan atau nasionalis sering kali berujung pada konflik horizontal yang berdarah. Strategi “Tujuh Setan Desa” memang berhasil memobilisasi massa, namun juga menciptakan polarisasi yang sangat dalam di masyarakat.
Melalui kampanye ini, BTI menuntut implementasi Undang-Undang Pokok Agraria secara murni dan konsekuen demi kepentingan rakyat kecil. Mereka menolak segala bentuk bagi hasil yang merugikan petani penggarap dan menuntut penghapusan utang-utang lama kepada tengkulak. Fokus perjuangan ini menjadikan BTI sebagai pilar utama gerakan kiri yang berakar kuat di pedalaman Indonesia.
Keberhasilan strategi ini terletak pada kemampuannya menyentuh masalah perut dan ketidakadilan yang dirasakan langsung oleh warga desa. Tanpa perlu penjelasan ideologis yang rumit, petani sudah mengerti siapa yang harus mereka lawan untuk memperbaiki taraf hidup. Ikonografi “Tujuh Setan Desa” menjadi simbol perlawanan yang sangat ikonik dalam sejarah pergerakan agraria nasional.